maafkan ananda, Ibu' dan Bapak!,... Desember berikutnya, semoga Putramu ini tak ragu melangkahkan kaki,... |
**kp kali, 14-12-2007
aku mempercayai..., bahwa salah satu harta yang paling berharga adalah ketika kita bangun pagi dan mendapati ada sms masuk dari sahabat kita,...
maafkan ananda, Ibu' dan Bapak!,... Desember berikutnya, semoga Putramu ini tak ragu melangkahkan kaki,... |
**kp kali, 14-12-2007

Namanya Retno Purnamasari (12), sesuai dengan namanya, kedua orang tuanya tentu menginginkan Retno tumbuh menjadi anak yang pintar, cantik dan rupawan seperti bulan purnama. Namun Tuhan agaknya masih berkehendak lain. Semenjak usia 3 tahun, Retno menderita tumor dimata kirinya. Ayah Retno, Margono (43) yang berprofesi sebagai penarik becak dan Ibunya Tukirah (40) tukang sablon, sama sekali tidak memiliki biaya untuk pengobatan Retno. Praktis kini hari-hari Retno hanya diisi dengan berbaring saja di satu-satunya tempat tidur berkasur tipis tanpa alas yang juga difungsikan sebagai tempat menerima tamu jika ada yang berkunjung. Untuk sekedar merasakan hangatnya sinar mentari dan menghirup segarnya udara pagipun kini Retno enggan. Ia lebih memilih tiduran di ruangan pengap seharian daripada diejek sama teman-teman sebayanya. Sekolah Retno hanya sampai kelas 2 SD saja, Ia malu jika teman-temannya menyeringai jijik saat menatap mukanya. Sama sekali tidak ada teman yang mau berdekatan dengannya. Sebagai orang tua, Margono dan Tukirah bukannya tanpa usaha. Dulu sewaktu mata kiri Retno mulai menunjukkan gejala pembesaran, Margono telah membawanya ke salah satu Rumah Sakit milik Pemerintah di Semarang. Petugas rumah Sakit hanya melihat kondisi Retno sebentar, kemudian berujar "Alat Rumah Sakit tidak ada,..kurang satu pak! alatnya!." Sedikit kecewa, Margono lantas membawa Retno ke rumah sakit mata cukup terkenal di Semarang. Dokter sempat memberikan diagnosa bahwa Retno terkena penyakit tumor dan harus segera dioperasi. Namun lagi-lagi petugas rumah sakit memberikan keterangan bahwa "Alat rumah sakit tidak kumplit... kurang satu!" Margonopun tidak lekas putus asa, segera ia membawa Retno putrinya ke Rumah Sakit paling besar milik pemerintah di Semarang. Di Rumah Sakit dengan nama mentereng karena sederet prestasinya di dunia penyembuhan ini, Margono menggantungkan harapan terakhirnya. Namun Jangankan diperiksa oleh Dokter, dilayani oleh petugas Rumah Sakitpun tidak. Lebih dari setengah hari Margono dan Retno dibiarkan begitu saja di loket pendaftaran. Akhirnya menjelang ashar Margono membawa pulang putrinya yang mulai terlihat sayu tanpa penanganan. Berhari-hari Margono memikirkan kejadian yang menimpa ia dan putri kecilnya.Rumah Sakit yang telah cukuplama berdiri masak tidak memiliki alat untuk menyembuhkan putrinya. "Alat apa yang kurang..?" "Uang!!" ya....Uang... alat yang kurang ternyata adalah uang!!" akhirnya Margono menemukan jawabannya... Uang, alat pembayaran yang memang tidak ia miliki. Margono kini benar-benar pusing dengan keadaan keluarganya. Pasalnya pihak pemerintah setempat telah beberapa kali mengingatkannya agar rumah berukuran 3,5x2,5 meter yang ia tempati bersama istri dan 6 anaknya segera dibongkar. Rumah kecil tersebut berdiri diatas saluran air disisi jalan Bintoro Kecil RT 02/08, Gayamsari, Semarang yang menurut peraturannya memang tidak boleh didirikan bangunan apapun. Dengan kata lain Rumah satu ruangan yang didirikan Margono illegal. kini margono tak tahu lagi harus berbuat apa,.. sedikit "senyum" dan elusan dikepala Retno, tentu akan sangat meringankan beban keluarga Margono. |




"dimanakah kau ada??? *****Slam: Wakakakakakakakak,......... Hiks!! |

aku tidak akan menyalahkan siapapun, sebab aku hanya ber angan-angan tapi bukan berarti aku tidak serius karna aku percaya karma,* bertatapan dengan paras halusmu tak pernah sedikitpun terlintas dalam benakku entah hari apa, aku lupa...namun hari itu memang agak terasa berbeda bagiku aku seperti merasakan udara yang lain dari biasanya, terasa lebih bersih dan agak sedikit ada bau wangi yang mengambang diatasnya. Langkah kakiku terasa lebih ringan dari seorang penari balet sekalipun. Mereka melangkah seolah telah menemukan arah, bahkan tanpa aku perintah. Dan langkah yang aku tuju rupanya tidak berbeda dari hari-hari yang lalu, ...ya tempat-tempat itu juga, karena memang aku bukan seorang pengembara atau orang yang suka bepergian keluar kota. Mataku lekas tertuju pada sebuah tempat yang memang tak asing bagiku. LUARR BIASA, ada pemandangan berbeda yang segera menarik leherku untuk bergerak menoleh. Ini seperti sebuah mimpi bagiku, aku seperti seorang tua renta yang kembali menemukan kejantanannya, Seperti ada hembusan angin dingin pegunungan yang masuk secara perlahan melalui pori-pori dan melembabkan padang hatiku yang telah mengering. Bukan hanya kerling mata dan bentuk hidungnya yang memesona, .. berada dihadapannya aku seperti kehilangan tenaga, .... berasa nyaman memandang lama-lama gurat-gurat halus parasnya, Aku seperti tenggelam dalam teori relativitas yang di kemukakan oleh Albert Einstein... .......................namun, Ia seperti beringsut pelan saat aku memelototinya lama-lama, terasa.. aku menjadi silau dibuatnya,... silau hingga memaksaku untuk memicingkan mata, aku mundur dan mencari tempat yang agak teduh agar tetap bisa menikmatinya, ....menikmati, menyelami dan berusaha memahami cukup dari kejauhan agar ia tetap berasa nyaman ada disana ......benar-benar siluet yang aku angankan |
aku tidak akan menyalahkan siapapun
sebab aku hanya berangan-angan
tapi bukan berarti aku tidak serius
karna aku percaya karma *
(kampung kali, 27/9-07)